Pergerakan teknokrasi dalam arena politik Jepang
Di arena global, era 1910an diwarnai oleh gerakan jajaran elit ilmuwan teknologi untuk menuntut status yang lebih tinggi dan akses yang lebih mudah menuju kekuasaan politik. Para teknokrat (birokrat-teknologi [technology-bureaucrat]) di Jepang tidak ketinggalan pula melakukan hal serupa. Mereka menanggapi industrialisasi dengan mengajukan tuntutan kepada pemerintah untuk mempermudah kegiatan penelitian dan pengembangan. Para insinyur sipil pada pemerintah pusat aktif di dalam gerakan pergerakan teknokrat ini. Mereka bertanggung jawab terhadap pembangunan lahan namun tidak memiliki akses yang luas di dalam proses pembuatan kebijakan. Ketidakmampuan tersebut disebabkan oleh adanya Undang-undang Pemilihan Pegawai Sipil (bunkan nin 'yorei) yang diskriminatif. Gesekan antara teknokrat dan birokrat-hukum (law-bureaucrat) menjadi sentral dari pergerakan teknokrasi di Jepang. Gerakan inilah yang melatarbelakangi kebijakan-kebijakan sains dan teknologi Kerajaan Jepang berdasarkan definisi teknokratik tentang sains, yakni "sains-teknologi". Orang yang berpengaruh di dalam pergerakan teknokrasi adalah Miyamoto Takenosuke, seorang insinyur dari Biro Insinyur Sipil pada Kementerian Dalam Negeri Jepang.
Pada awal kemunculannya (1920-1932) pergerakan teknokrasi dikobarkan oleh Miyamoto dan sebuah organisasi insinyur yang ia bentuk pada tahun 1920 yang bernama Kojin Club. Organisasi ini bertujuan untuk menyatukan para insinyur dan menuntut akses kekuasaan politik. Arah yang hendak dicapai oleh Kojin Club menunjukkan bagaimana sebuah keyakinan pada sains dan rasionalitas memiliki hubungan yang erat dengan pembentukan kelas dan nasionalisme. Pada saat jejaring teknologi skala besar beranjak mengubah bentang industri dan sosial-ekonomi Jepang, para insinyur Kojin Club mengadakan pergerakan proletarian untuk menumbuhkan kesadaran kelas mereka sendiri di dalam usaha-usaha menyatukan para insinyur. Akan tetapi, tak lama kemudian Kojin Club menghapus istilah dan politik pergerakan proletarian karena mereka tidak mampu menerjemahkan latar belakang teknis mereka ke dalam identitas kelas.
Meskipun istilah "teknokrasi" (tekunokurashii) baru dikenal oleh orang Jepang setelah menjadi kata yang populer di Amerika Serikat pada awal 1930an, sejarah Kojin Club menunjukkan bahwa para insinyur Jepang telah mulai membentuk teknokrasi mereka sendiri sebelum istilah teknokrasi tersebut mereka kenal.
Miyamoto dan Kojin Club menunjukkan bahwa teknokrasi, apakah itu di Jepang, Amerika Serikat, atau Eropa, diajukan sebagai alternatif bagi Marxisme dan apapun yang bersaing dengannya untuk menjadi solusi yang lebih baik bagi krisis-krisis ekonomi dan perburuhan pada awal abad ke-20. Kepercayaan pada sains, meskipun didefinisikan secara berbeda oleh penganut Marxisme, berperan penting di dalam menawarkan pengelolaan yang lebih baik terhadap masyarakat. Seperti halnya Marxisme, teknokrasi sangat penting di dalam pengelolaan masyarakat kapitalis, namun, perbedaannya dari Marxisme, ialah bahwa teknokrasi memerlukan pengaturan masyarakat oleh proletariat dengan pengamatan "ilmiah (scientific)" mengenai sejarah suatu masyarakat; teknokrasi menuntut pengelolaan suatu bangsa oleh para insinyur dengan keahlian "ilmiah".
Mizuno, Hiromi. 2009. Science for the Empire: Scientific Nationalism in Modern Japan. California, United States: Stanford University Press. pp. 19-20.