Asal-usul sepatu olahraga

Nenek moyang manusia membuat dan memperkenalkan dua jenis alas kaki yang kita sebut sebagai 'sepatu'. jenis pertama, platform-style shoes, adalah sepatu yang terdiri atas sol yang diberi tali untuk diikatkan pada kaki, seperti halnya sandal. Jenis kedua, wrap-style shoes, atau moccasins, adalah sepatu yang terbuat dari kulit atau kain yang dibungkuskan pada kaki. 

Pada tahun 1938, seorang ahli arkeologi dan antropologi bernama Luther Cressman mengadakan kegiatan penelitian di gurun di daerah Central Oregon. Ia menggali tanah bekas erupsi gunung berapi purba. Cressman menemukan sebuah sepatu jenis pertama (platform-style shoe) yang diperkirakan telah terpendam di dalam tanah selama 10.000 tahun. Satu dasawarsa kemudian, 2008, seorang mahasiswi bernama Diana Zardaryan menemukan sepatu jenis kedua (wrap-style shoe) pada saat melakukan ekskavasi sebuah gua di Armenia. Menurut perkiraan, sepatu yang temukan oleh Zardaryan tersebut telah tertimbun selama 5.500 tahun. 

Dalam kurun waktu 10.000 tahun antara keberadaan sandal dan sepatu, bermunculan sepatu-sepatu unik dari berbagai kebudayaan dan peradaban, dari paduka yang dikenakan oleh orang India zaman kuno hingga sepatu lotus yang dikenakan oleh perempuan Cina. Para raja Mesir Kuno juga mengenakan sandal kulit yang bergambarkan budak milik mereka. Para olahragawan Yunani pada saat Olimpiade Kuno mengenakan sandal khusus bernama ligula. Sementara itu, orang Romawi juga mengenakan sepatu gallica yang dikenakan untuk berlari. 

Demikianlah masa-masa awal keberadaan alas kaki yang sekarang kita kenal sebagai sepatu. Lantas, dari manakah cikal-bakal sepatu olahraga? Paragraf sebelumnya telah sedikit menyinggung tentang Olimpiade Kuno di Yunani. Namun, di dalam perkembangannya bentuk sepatu yang kemudian khusus dikenakan untuk kegiatan olahraga sangatlah berbeda. Sepatu olahraga yang kita kenal sekarang, yang di Amerika Serikat disebut sebagai sneakers, memiliki ciri khas sol yang terbuat dari bahan karet. Bahan karet untuk alas sepatu tidak dikenal pada zaman Yunani Kuno atau Romawi. Bahan bakunya justeru berasal dari daerah yang boleh kita anggap paling terbelakang di dalam urusan perkembangan teknologi, yakni Amazon Basin di Amerika Selatan. Berikut ini runutan sejarahnya secara singkat.

Penduduk aseli Amazon ternyata telah mengetahui cara untuk melindungi kakinya dari luka-luka akibat menginjak batu, ranting, atau gigitan serangga. Ialah dengan menyadap pohon hevea (Hevea brasiliensis) dan menggunakan sadapan latex. Mereka menuangkan sadapan hevea di atas cetakan berbentuk kaki yang terbuat dari tanah lempung dan kemudian diasapi di atas batu bara. Pada mencapai panas tertentu latex berkoagulasi dan mengeras menjadi alas kaki karet mentah.

Pada akhir 1700an, orang-orang Prancis dan Inggris yang berkunjung ke Amazon Basin membawa oleh-oleh alas kaki buatan penduduk setempat tersebut dan menyebarkan "demam karet" di seluruh Eropa dan Amerika Serikat. Pabrik-pabrik pengolahan mulai bermunculan untuk memproduksi bahan "ajaib" tersebut dalam skala besar. Akan tetapi metode pengasapan latex yang diterapkan oleh orang Amazon dianggap tidak praktis di Amerika Utara. Bahannya terlalu lengket pada saat terkena panas dan terlalu keras dan mudah patah pada saat terpapar suhu dingin. 

Perubahan terjadi manakala seorang penemu muda yang terobsesi pada karet mengadakan eksperimen di dapurnya dengan lateks yang berminyak dan berbau. Ia berusaha mengetahui seberapa lama ketahanan bahan tersebut. Pemuda itu bernama Charles Goodyear. Banyak orang menganggapnya aneh karena terus mengurung diri di dalam dapur bersama alat pemanasnya, memanaskan dan mengaduk latex dengan berbagai bahan, dari bedak bayi hingga magnesium. Goodyear tidak menghiraukan gunjingan orang-orang di sekitarnya mengenai apa yang tengah ia lakukan. Ia terus berusaha dan pada suatu hari ia mencampur adukan latex tersebut dengan sulfur. Adukan yang ia olah mengalir keluar dari tangannya dan jatuh ke kompor kayu yang berada di dekatnya. Ia melompat untuk melepaskan lelehan tersebut karena khawatir bahwa tumpahan tersebut akan merusak kompor. Namun, ternyata tidak demikian. Lelehan latex-sulfur tersebut membeku dan pada saat ia mengambilnya bahan tersebut menyerupai kulit. Ketidaksengajaan tersebut akhirnya menjadi sebuah terobosan, meskipun tidak serta-merta berbuah hasil. Butuh eksperimen berpuluh tahun bagi Goodyear untuk menghasilkan proses pemanasan yang sempurna dengan latex dan sulfur. Ia menyebut proses tersebut sebagai 'vulkanisasi'. Ia kemudian berangan-angan suatu saat segala benda terbuat dari karet. 

Setelah Charles Goodyear meninggal, perusahaan-perusahaan karet dari Inggris dan Amerika Serikat mulai memproduksi sepatu dengan sol karet dan pakaian ringan yang terbuat dari karet. Sepatu model baru tersebut dinamakan plimsolls (di Inggris) atau sneakers (di Amerika Serikat). Orang Inggris menyebutnya 'plimsolls' karena garis jahitan penyambung antara bagian atas sepatu dan sol sepatu mengingatkan mereka pada tanda-tanda yang dilukiskan pada lambung kapal kargo -- garis plimsoll menunjukkan kedalaman maksimal yang dianjurkan untuk kapal dengan muatan kargo yang penuh (sebagai informasi: istilah 'plimsolls' diambil dari nama seorang anggota parlemen, Samuel Plimsoll, yang mengusulkan protokol keselamatan muatan kargo pada pertengahan 1870an). 

Sneakers mencapai popularitasnya pada akhir 1800an. Pada tahun 1897 Sears Roebuck & Company menjual sepasang sepatu sneakers dengan harga 60 sen. New Liverpool Rubber Company mengembangkan sepatu croquet. United States Rubber Company memperkenalkan 'Keds', sepatu yang khusus dibuat untuk ukuran anak-anak. Converse Rubber Company memperkenalkan sepatu tinggi untuk bola basket. B. F. Goodrich mematenkan teknologi Posture Foundation (PF) insole dan memperkenalkan sneakers bernama PF Flyers. Memasuki tahun 1915, banyak perusahaan sneakers yang telah mencapai kemapanan. Di Cekoslovakia terdapat Bata Shoes. Joseph Foster mendirikan perusahaan yang kelak dikenal dengan nama Reebok. Disusul kemudian dengan berdirinya Brooks Sports and Hyde Athletic Industries, yang merupakan induk perusahaan dari Saucony dan Spot-Blit. 

Semenjak era itu bermunculan bentuk, varian, dan versi sepatu olahraga yang disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis olahraga. Pada era kekinian kita mengenal semakin banyak jenis dan bentuk sepatu olahraga sehingga orang menjadi semakin mudah untuk memilih sepatu mana yang sesesuai dengan kebutuhan olahraga mereka. 

Referensi:
Keyser, Amber J. 2015. Sneaker Century: A History of Athletic Shoes. Minneapolis, United States: Twenty-First Century Books.

Popular posts from this blog

Bagaimana masyarakat Indonesia mengenal sepeda motor

Olimpiade yang dibatalkan

Pergerakan teknokrasi dalam arena politik Jepang