Asal usul Sri Lanka

Tersebutlah sebuah pulau besar yang terletak di sebelah timur lepas pantai anak benua India. Pulau tersebut mulanya dikenal sebagai tempat hunian bangsa pemburu. Perubahan terjadi manakala pulau tersebut didatangi oleh bangsa Sinhala pada abad VI. Bangsa Sinhala merupakan cabang dari ras Indo-Eropa yang berpindah menuju selatan melalui India. Orang Sinhala kemudian memberi nama pulau besar yang mereka diami dengan sebutan "Sinhaladvipa". Orang Inggris menyebutnya "Ceylon". Peristiwa penting Sinhaladvipa terjadi pada awal Abad III, yakni masuknya pengaruh Buddhisme. Sinhaladvipa merupakan wilayah paling jauh yang pernah dikuasai oleh Kerajaan Asoka yang menganut agama Buddha. Hingga saat ini orang Sri Lanka menjadi penganut setia ajaran Buddha Theravada. Penggunaan nama "Sri Lanka" mulai dikenal pada tahun 1972. Sri Lanka memiliki arti "pulau yang indah".

Lebih dari dua abad yang lalu hampir seluruh daratan Sri Lanka dipenuhi oleh hutan alam dengan kekayaan flora dan fauna yang luar biasa. Pada saat ini kondisi alam telah berubah drastis, mengalami penyusutan luas hutan. Saat ini hanya 30% dari total daratan Sri Lanka yang masih terjaga kelestariannya. Menurut Ellis (2011: 4) Sri Lanka, yang merupakan salah satu negara berpenduduk terpadat di dunia, telah mencanangkan kegiatan pelestarian kehidupan liar dan alam terhadap 13% dari total wilayah negara tersebut. Sri Lanka memiliki 242 spesies kupu-kupu, 435 spesis burung, 92 spesies mamalia, 107 spesies ikan, 54 spesies amfibi, 74 spesies reptil tetrapod, dan 81 spesies ular. Keragaman hayati flora di negara Sri Lanka juga luar biasa, di mana telah tercatat 830 spesies bunga endemik (230 spesies di antaranya terancam kepunahan) (Ellis, 2011: 4).

Para ahli berpendapat bahwa pulau Sri Lanka ditengarai berpenghuni manusia sejak 500 ribu tahun yang lalu. Karena tanahnya yang subur dan ramah bagi ekosistem teresterial maupun akuatik pulau tersebut menjadi tempat menarik bagi manusia purba untuk mendapatkan bahan makanan. Kegiatan bercocok tanam di Pulau Sri Lanka diduga telah ada sejak 12.000 tahun yang lalu. Kegiatan tersebut memperbanyak persediaan makanan bagi manusia yang pada waktu itu masih bertahan dengan budaya berburu. 

Sejarah yang tercatat mengenai Sri Lanka berawal dari 2.500 tahun yang lalu. Terdapat tulisan-tulisan berangka tahun sejak 1.500 tahun yang lalu ditulis oleh para biksu Buddha. Himpunan tulisan tersebut diberi nama Mahavamsa dan Culavamsa. Manuskrip bersejarah tersebut memuat gambaran detil mengenai kejayaan dan kemegahan masa lalu daerah Sri Lanka. Mahavamsa menuturkan lahirnya ras Sinhala bersamaan dengan datangnya Vijaya, yang diyakini sebagai pendiri Sinhala, sekitar 1.000 tahun sebelumnya. Mahavamsa dan Culavamsa mendapatkan pengaruh dari bias religius. Tema utamanya ialah peran historis Sinhala sebagai ujung tombak peradaban Buddha (de Silva, 1981: 3).

Sejumlah penyelidikan terkini dalam bidang arkeologi di wilayah Timur-Laut negara Thailand (Ban Chiang) dan dataran tinggi Khorat, serta ekskavasi di sejumlah tempat lain, termasuk di Taiwan, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Australia Utara, menyajikan bukti yang mencengangkan mengenai kemungkinan bahwa awal peradaban manusia berada di Asia Tenggara, bukan Asia Barat. Materi yang berhasil diekskavasi dan diteliti selama berlangsungnya penelitian mengindikasikan sinyalemen bahwa kegiatan pertanian telah dilakukan nenek moyang manusia ribuan tahun lebih awal daripada kawasan lain, seperti Asia Barat, India atau Cina. Peran Sri Lanka di dalam kasus ini ialah sebagai penghubung selama berabad lamanya. Signifikansi peran strategis Sri Lanka diyakini lebih dipengaruhi oleh budaya Asia Tenggara daripada budaya India. Temuan arkeologis di Asia Tenggara tersebut juga menunjukkan bahwa kemungkinan pengaruh Asia Tenggara terhadap Sri Lanka telah masuk semenjak jaman prasejarah. 

Sri Lanka ikut berperan di dalam kegiatan perdagangan masa lalu. Hubungan dagang telah dijalin dengan negara-negara lain. Bagi para pedagang, Sri Lanka mendapatkan julukan "the granary of Asia" (lumbung Asia). Para pedagang Yunani pada masa Alexander the Great (335-323 SM) datang ke Sri Lanka untuk melakukan perdagangan batu mulia, muslin dan tempurung kura-kura, dan Sri Lanka pada waktu itu terkenal sebagai penghasil gading gajah dan beras. Terjadilah hubungan dagang antara Kekaisaran Romawi dan Sri Lanka pada masa Anuradhapura yang selanjutnya bertahan selama 14 abad. 

Agama Buddha diperkenalkan ke masyarakat Sri Lanka pada sekitar tahun 246 SM, yakni pada masa kekuasaan Chola dengan pusat pemerintahan di Polonnaruwa. Chola berhasil menaklukkan daerah India bagian Selatan dan memperkuat pengaruh buddhisme. Pada periode tahun 1153-1186 di bawah kekuasaan Raja Parakramabahu I Sri Lanka terkenal sebagai pulau yang memiliki banyak bangunan megah dan saluran irigasi yang baik. Sisa-sisa kejayaan masa lalu tersebut masih dapat dilihat hingga sekarang pada situs reruntuhan di Polonnaruwa (Ellis, 2011: 5).

Referensi:
de Silva K.M. (1981). A History of Sri Lanka. London, Great Britain: C. Hurst & Co (Publishers) Ltd.
Ellis R. (2011). Sri Lanka. Edition 4. London, Great Britain: Bradt.

Popular posts from this blog

Bagaimana masyarakat Indonesia mengenal sepeda motor

Olimpiade yang dibatalkan

Pergerakan teknokrasi dalam arena politik Jepang