Awal keberadaan sandal
Pada jaman sekarang ini sepertinya semakin sedikit kita menjumpai orang yang tidak mengenakan alas kaki di dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, dalam arti beraktivitas tanpa alas kaki secara terus-menerus. Dengan alasan menjaga kesehatan, kebersihan, atau melindungi dari bahaya cidera, berbagai bentuk alas kaki telah diperkenalkan seiring dengan perkembangan teknologi. Terlepas dari perubahan yang terus terjadi terdapat satu jenis alas kaki yang senantiasa mewarnai kehidupan keseharian kita, yakni sandal. Jika alas kaki berupa sepatu kita kenakan di dalam keadaan-keadaan khusus, misalnya berolahraga, bersekolah, atau bekerja, sandal memiliki fungsi yang lebih luas. Sandal lebih erat hubungannya dengan keadaan santai. Orang mengenakan sandal untuk melindungi kakinya namun ia merasa lebih bebas dibandingkan pada saat mengenakan sepatu.
Keberadaan sandal sebagai alat kaki telah dikenal semenjak jaman Mesir Kuno, yakni sejak kira-kira tahun 3000 Sebelum Masehi. Pada jaman itu alas kaki menunjukkan lingkungan fisik di mana bangsa Mesir berada dan kepercayaan serta praktek sosial dan budaya bangsa tersebut. Bangsa Mesir kuno mengenal sandal dalam bentuk anyaman yang terbuat dari bahan tumbuhan, seperti daun papyrus dan serat palem. Bentuk sandal ini ditengarai sebagai pelopor keberadaan alas kaki di Mesir. Orang-orang di sana mengenakan sandal untuk menjaga agar kaki merasa sejuk dan melindungi kaki dari sengatan panas pasir gurun. Perkembangan teknologi membuat orang berinovasi dengan memperkenalkan sandal yang terbuat dari gabungan kulit binatang, serat tumbuhan, dan kayu.
Sandal bagi Bangsa Mesir menunjukkan perbedaan kelas sosial. Para firaun mengenakan sandal yang bergambar musuh-musuh mereka pada bagian alas. Mereka berangkapan bahwa dengan menaruh gambar musuh pada bagian alas ia berarti dapat menginjak-injak harga diri musuhnya tersebut. Dengan kata lain, sandal bagi firaun dipergunakan pula untuk mendiskreditkan musuh. Pada waktu itu hanya kalangan elite yang boleh mengenakan sandal yang diberi hiasan dan hanya firaun dan para penasihat kerajaan yang boleh mengenakan sandal bertatahkan emas atau perhiasan. Sementara itu warga terhormat dapat mengenakan sandal dengan warna-warna pastel, sedangkan warga kelas menengah mengenakan sandal berwarna merah dan kuning. Warga biasa di kalangan bawah atau budak tidak diperbolehkan mengenakan alas kaki.
Beralih ke kebudayaan Mesopotamia, yang meliputi bangsa Assyria, Babylonia, dan Sumeria, yang berdomisili di lembah antara Sungai Tigris dan Sungai Euphrate, sandal yang dikenakan oleh orang-orang di daerah itu terbuat dari kulit yang dipasangi pegangan untuk ibu jari dan penyangga tungkai. Model sandal seperti ini barangkali dikenal sejak tahun 2600 SM. Bangsa Assyria dan Babylonia mengenal penyamakan kulit dari bangsa Sumeria dan mengenakan sandal yang tidak jauh berbeda.
Bagi bangsa Yahudi, yang juga berasal dari kebudayaan Mesopotamia pada sekitar tahun 1900 SM dan tinggal di Mesir serta daerah di sekitar wilayah Israel saat ini, sandal berfungsi sebagai penunjuk identitas sosial. Pada waktu itu orang dianggap sangat miskin jika tidak mengenakan sandal pada saat beraktivitas di luar ruangan. Perubahan bentuk sandal terjadi pada saat Romawi mulai melakukan invasi. Sandal gaya Mesopotamia kemudian diganti oleh sandal gaya Romawi, yakni terbuat dari kayu, kulit atau pelepah palem yang dilengkapi dengan tali untuk mengikat ibu jari. Sandal yang dikenakan oleh perempuan kaya dihiasi dengan applique, kerang atau perhiasan.
Sandal juga mewarnai perkembangan kebudayaan Yunani Kuno, bermula dari Kebudayaan Minoa Crete dan berlanjut hingga era kebudayaan Mycenae. Orang Minoa dari kelas atas mengenakan sandal untuk kegiatan di luar ruangan. Sandal tersebut berbetuk sangat sederhana yang diikatkan dengan tali pada kaki. Seperti halnya di Mesir, masyarakat biasa dari kelas bawah Yunani Kuno tidak lazim mengenakan sandal di dalam kegiatan sehari-hari mereka.
Demikianlah beberapa dari sekian banyak sejarah perkembangan sandal sebagai alas kaki. Kiranya antara satu kebudayaan dan kebudayaan lainnya memiliki karakteristik tersendiri dalam penggunaan sandal baik sebagai alas kaki semata maupun sebagai simbol status sosial dan ekonomi orang yang mengenakannya.
Di dalam sejarahnya sandal pernah menduduki tempat yang terhormat, dalam arti bahwa tidak setiap orang boleh atau layak mengenakannya.
Referensi:
DeMello M. (2009). Feet and Footwear: A Cultural Encyclopedia. Oxford, United Kingdom: Greenwood Press. hal. 67-69.