Bert de Gruyter

Bert de Gruyter lahir di Belanda pada tanggal 10 Mei 1915. Ia merupakan anak dari keluarga pengungsi dari daerah Flanders yang hancur akibat perang. Setelah Perang Dunia Pertama usai, keluarga de Gruyter kembali ke kampung halaman mereka di Brugge, Flanders Barat, Belgia. Sebagai seorang pemuda, Bert de Gruyter aktif di dalam Pergerakan Nasionalis Flemish, DINASO. Pada saat Jerman menduduki Belgia pada tahun 1940 DINASO bersama sejumlah kelompok nasionalis/populis menggalang pergerakan otonomi Flanders. 

Bert de Gruyter mendaftarkan diri sebagai anggota Waffen-SS pada bulan April 1941 dan ditugaskan pada SS Standarte "Nordwest", yang pada saat itu memiliki batalion-batalion  relawan dari Flanders, Belanda, dan Denmark. Pada bulan Agustus 1941 de Gruyter bergabung ke dalam Legiun Relawan SS "Flandern" dan ditugaskan pada 3rd Company di bawah SS-Ostuf.Moyen. Setelah mengikuti pendidikan dasar dan formasi kesatuan ia ikut ke dalam Legiun yang bertugas ke Front Leningrad pada bulan Desember 1941. Tugasnya bersama "Flandern" berlanjut hingga bulan Maret 1943, saat ia terluka parah di dalam sebuah pertempuran di dekat Krasny Bor. Pada musim panas 1943, Legiun "Flandern" pindah kesatuan sebagai bagian dari Flemish 6.SS-Sturmbrigade "Langemarck"; de Gruyter ditugaskan sebagai pelatih militer pada 3rd Company. 

Pada usia 28 tahun de Gruyter dipandang oleh rekan-rekannya sebagai figur yang senior dan memiliki "figur kebapakan". Bukan hal yang aneh mengingat sebagian besar anggota peleton berusia remaja. Kepemimpinannya di sejumlah kelompok nasionalis Flanders menarik perhatian Reichsjugendfuehrer Arthur Axmann yang berkeinginan untuk memperluas cabang Reich Youth.

Pada akhir tahun 1943 de Gruyter dipilih untuk mengikuti pelatihan pejabat masa perang di SS Junkerschule "Toelz", Bavaria. Ia scara mengejutkan berhasil lulus dari pelatihan dengan prestasi yang memuaskan. Selang tak lama kemudian de Gruyter mendapatkan promosi sebagai SS-Untersturmfuehrer. Ia tidak lagi menjadi bagian dari kesatuan Flemish, melainkan 12.SS Panzer Division "Hitler Jugend". Penugasan tersebut tentu saja bercermin dari reputasinya di dalam mengorganisasi kelompok-kelompok kepemudaan, termasuk kesatuan tentara muda. 

Pada bulan Maret 1945 de Gruyter diangkat menjadi komandan kesatuan panzergrenadier untuk 12.SS Panzer Division. Selama menjabat sebagai komandan divisi ini, de Gruyter terlibat di dalam pertempuran di Hungaria dan Austria. Pasukan de Gruyter menyerah kepada pihak Amerika Serikat di Linz, Austria, pada saat perang berakhir. 

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir Bert de Gruyter dikirim kembali ke Belgia untuk dihadapkan ke pengadilan karena bergabung dengan angkatan bersenjata Jerman di dalam memerangi komunisme internasional. Ia kemudian dijatuhi hukuman penjara namun masih dibebaskan untuk melakukan sesuatu di Brugge. Setelah dibebaskan dari hukuman de Gruyter aktif di dalam kegiatan membantu para veteran dari Legiun "Flandern" yang mengalami cacat dan kehilangan rumah. Ia selanjutnya memperluas kegiatan dengan membantu semua veteran Flemish di Front Timur yang memerlukan bantuan. Kegiatan ini kelak menjadi salah satu bagian penting di dalam hidup de Gruyter. Salah satu usaha terakhir de Gruyter ialah membantu penyusunan dan penerbitan sebuah sejarah Legiun "Flandern" yang terbit tak lama sebelum ia tutup usia pada usia 87 pada tanggal 13 September 2002. 

Referensi:
Flemish Waffen-SS Officers and Volunteers: SS-Untersturmfuehrer Bert de Gruyter. Siegrunen, Vol. XIV, 1: 24-26.

Popular posts from this blog

Bagaimana masyarakat Indonesia mengenal sepeda motor

Olimpiade yang dibatalkan

Pergerakan teknokrasi dalam arena politik Jepang