Catatan Sulayman | Ekspedisi Sriwijaya ke Khmer
Ekspedisi Raja Sriwijaya menuju Kerajaan Khmer (Kamboja) ini diceritakan oleh seorang pedagang berkebangsaan Arab yang bernama Sulayman. Pada saat kejadian berlangsung Sulayman tengah melakukan perjalanan dari Arab menuju Cina.
Terdapat kemungkinan bahwa pada abad ke-8 armada Sriwijaya menyerbu pantai Annam (Champa) dan memasuki wilayah hingga Kamboja. Sebuah prasasti di Champa berangka tahun 787 menyebutkan bahwa balatentara Jawa (ditulis 'Java', bukan 'Yava') menuju ke Kamboja melalui jalan laut dan membakar kuil persembahan Shri Bhadradhipatishvara. Java di sini diartikan Sriwijaya, bukan Jawa karena oleh pihak asing sebutan Java pada saat itu diberikan untuk Java dan Sumatera. Kamboja juga diduduki dari jalur darat. Hal tersebut dikemukakan oleh riwayat dari seorang pengembara dari Arab pada abad ke-9. Suleyman, pedagang Arab, mengadakan perjalanan ke India dan Cina, dan tulisannya berangka tahun 851. Tulisannya ditanggapi oleh Abu Zayd Hassan pada sekitar tahun 916. Di dalam penggambarannya mengenai kerajaan Zamaj (atau Sribuza -- nama Arab untuk Sriwijaya) disebutkan sebagai berikut: "Raja (atau Zabai) dikenal dengan gelar Maharaja.... Ia berkuasa atas banyak pulau. Pulau-pulau Sribuza, Rami (Ramini adalah nama lain dari Sumatera -- nampak bahwa pengembara Arab tidak mengetahui bahwa Zabaj, Sribuja dan Rami kesemuanya berada di Sumatera) berada di bawah kekuasaan Maharaja.... Kerajaan maritim Kalah (Kra) juga mengakui kekuasaannya.... Pulau miliknya sendiri sangatlah subur dan berpenduduk banyak sekali." Selanjutnya Sulayman menjelaskan sebuah kebiasaan aneh Maharaja. Setiap pagi, penasehat keuangan membawakan sebuah batangan emas ke hadapan Raja. Bentuknya menyerupai batu bata. Pemberian tersebut kemudian dilemparkan ke dalam sebuah danau yang berada di dekat istana. Sepanjang hidupnya raja tidak boleh menyentuh batang-batang emas tersebut. Pada saat ia mangkat penggantinya akan mengangkat kembali batang emas tersebut dari dasar danau. Setelah dihitung dan ditimbang batang-batang emas tersebut akan dibagi-bagikan kepada anggota keluarga kerajaan, para jenderal, pelayan dan orang miskin. Jumlah batangan emas dan berat totalnya kemudian dituliskan ke dalam catatan resmi dan prestise seorang raja akan bergantung pada jumlah batangan emas yang ia tinggalkan di dasar danau.
Selanjutnya Sulayman menjelaskan tentang Khmer (nama lokal dari Kamboja) sebagai berikut:
"Menurut tulisan-tulisan Zabaj pada suatu hari terdapat seorang raja Khmer. Khmer adalah negara yang mengekspor aloe Khmer. Kerajaan tersebut bukanlah sebuah pulau dan tidak ada kerajaan yang memiliki penduduk lebih banyak daripada Khmer (Kamboja).... Semua jenis minuman keras dan setiap jenis pelanggaran dilarang di sini; di kota-kota yang mengelilingi kerajaan orang tidak akan dapat menemukan satupun orang yang boleh berbuat melanggar moral.... Antara Khmer dan Zabaj jarak waktu tempuhnya adalah antara 10 dan 20 hari melalui jalur laut, bergantung cuacanya."
Diceritakan bahwa pernah terdapat seorang raja di Khmer yang berusia muda dan 'ceroboh'. Suatu hari ia duduk di istana, memegang perintah tertinggi di dekat bantaran sebuah sungai yang menyerupai Sungai Tigris (jarak antara istana dan laut memerlukan satu hari perjalanan) dan ia dibantu oleh menteri. Ia sedang mengadakan diskusi dengan menterinya tentang kebesaran kerajaan Maharaja dari Zabaj, jumlah pulau yang dikuasainya, dsb., pada saat raja mengatakan bahwa ia memiliki hasrat yang harus dipenuhi. Menteri, yang mengetahui bagaimana 'ceroboh'-nya sang raja menanyakan keinginan raja itu apa. Raja menjawab:
"Aku berkeinginan melihat kepala Maharaja Zabaj diletakkan di atas nampan."
Menteri memahami bahwa keinginan tersebut berbasis pada kecemburuan.
"Saya tidak berkeinginan mendengarkan keinginan Paduka itu. .... Kerajaan Zabaj berada jauh sekali dari wilayah kita. Mereka tidak memiliki keinginan untuk menyerang Khmer..... Tidak seorangpun yang dapat memendam keinginan seperti yang dikemukakan oleh Paduka dan Paduka tidak boleh mengatakannya kepada siapapun."
Raja menjadi tidak senang dengan menterinya dan mengabaikan himbauan dari menteri tersebut dengan memerintahkan penasihat kerajaan untuk memberitahukan keinginannya kepada para jenderal dan semua bangsawan yang hadir di dalam pertemuan di istana.
Berita tersebut mengalir dari mulut ke mulut hingga tersebar ke mana-mana, sehingga sampai ke pihak Maharaja Zabaj. Ia adalah seorang raja yang enerjik, aktif, dan berpengalaman. Ia memanggil menteri, memberitahukan apa yang telah ia dengar dan kemudian menambahkan bahwa ia harus mengambil sejumlah langkah setelah apa yang dikatakan oleh Raja Khmer di hadapan publik.
Selanjutnya Maharaja memberitahukan secara diam-diam kepada menteri tentang persiapan penyerangan menuju Khmer. Ia meminta agar persiapan tersebut dirahasiakan. Kemudian, dipersiapkanlah ribuan kapal yang mengangkut sebanyak mungkin balatentara. Pihak kerajaan sekedar memberitahukan kepada masyarakat bahwa Maharaja akan mengadakan perjalanan ke pulau-pulau di wilayah kekuasaan Sriwijaya....
Raja Khmer tidak mencurigainya hingga Maharaja telah mencapai sungai yang menuju ke arah ibukota. Serangan mendadak tersebut membuat Raja Khmer tertangkap. Para penduduk Khmer melarikan diri sebelum ditangkap oleh penyerang dari Sriwijaya. Namun Maharaja telah mengumumkan bahwa tidak seorangpun akan mendapatkan perlakuan kasar. Kemudian ia menduduki tahta Khmer dan memerintahkan Raja Khmer beserta menterinya untuk mengabdi kepadanya. Maharaja meminta Raja Khmer untuk memberitahukan keinginannya. Raja Khmer tidak menjawabnya. Kemudian Maharaja berkata,
"Engkau berharap melihat kepalaku di atas nampan. Jika engkau juga berharap untuk menyerang kerajaanku, maka aku juga akan melakukan hal yang sama terhadap kerajaanmu. Namun seperti yang kau kehendaki, yakni melihat kepalaku dipenggal, aku akan berkeinginan hal yang sama terhadapmu dan kemudian aku akan kembali ke negara asalku tanpa menyentuh apapun di wilayah Kerajaan Khmer.... Hal ini akan menjadi pelajaran bagi para penerusmu sehingga tidak seorangpun yang akan tergoda untuk melakukan tindakan-tindakan di luar kekuatannya."
Kemudian kepala Raja Khmer dipenggal. Selanjutnya Maharaja berkata kepada menteri:
"Aku tahu sebaik apa nasihatmu kepada tuanmu. Memprihatinkan bahwa ia tidak memperhatikannya! Sekarang carilah seseorang yang dapat menjadi seorang raja yang baik setelah orang gila ini dan lantiklah ia menjadi raja."
Kemudian Maharaja kembali ke kerajannya tanpa mengambil atau memperbolehkan siapapun untuk mengambil apapun dari Khmer.
Chatterjee B. R. (1933). India and Java. Part I (History). Calcutta, India: Prabasi Press. hal. 15-17.