Ekspedisi Inggris ke Jawa
Aksi militer dan angkatan laut Inggris terhadap wilayah-wilayah yang diduduki oleh Belanda di Hindia Timur dimulai pada tahun 1785. Pada tahun tersebut Pangeran Wilhelm V Oranje pergi ke Inggris dan setelah itu ia memerintahkan Vereenigde Oostindische Compagne (VOC) untuk menyerahkan semua wilaya pendudukan di Asia Timur guna kepada Inggris guna mencegah pendudukan Prancis. Pendudukan secara nyata oleh Inggris diawali pada tahun 1795 ketika berhasil merebut wilayah Ternate.
Setahun kemudian Inggris menyerang Batavia namun usaha tersebut terganggu karena Napoleon melakukan invasi terhadap Mesir. Perjanjian Perdamaian Amiens yang ditandatangani pada tanggal 23 Maret 1802 mengembalikan semua wilayah di Hindia ke tangan Belanda. Kondisi damai berlangsung selama satu tahun sebelum akhirnya pada bulan Mei 1803 pertikaian kembali terjadi antara Inggris dan Prancis.
Pada bulan November 1806 armada Inggris menghancurkan hampir semua armada Belanda di Batavia. Sisa-sisa kapal Belanda di Surabaya dan Gresik juga ditenggelamkan. Pada bulan Desember 1807 wilayah pertahanan pantai Belanda di Hindia Timur dikuasai oleh Inggris. Rangkaian kemenangan Inggris di dalam pertempuran melawan Prancis di Tanjung Harapan, Mauritius dan Bourbon mempermudah jalan untuk bergerak menuju wilayah Hindia Timur. Inggris tengah menikmati fase yang positif. Pada pertengahan tahun 1810 mereka merebut kepulauan rempah-rempah dengan menduduki Ambon dan Banda.
Sebaliknya, Belanda mengalami nasib yang sial. Selain kehilangan wilayah di Hindia Timur, di dalam negeripun mereka harus mengakui kekalahan dari Prancis. Puncak kekalahan Belanda dari Prancis di wilayah domestik terjadi pada bulan Juni 1810. Merasa mendapatkan angin segar, Inggris menyusun rencana untuk memperluas kekuasaannya atas Hindia Timur dengan menyerang Pulau Jawa. Dengan bantuan tentara Madras yang dikoordinasi oleh East India Company Council (EICC) Inggris melakukan invasi dengan armada laut berkekuatan 80 kapal. Invasi terdiri atas tiga divisi yang memiliki pangkalan di Penang, Madras, dan Bengal. Pasukan yang memperkuat armada tersebut terdiri atas 12.000 orang (4.000 orang berasal dari Eropa), sedangkan sisanya berasal dari Madras dan Bengal (sepoy).
Inggris mencapai Pulau Jawa pada tanggal 4 Agustus 1811, tepatnya di daerah Cilincing. Setelah diwarnai oleh serangkaian pertempuran singkat, baik tentara Belanda maupun Prancis dipaksa untuk melarikan diri ke sebuah benteng di Cornelis, yang merupakan benteng terkuat Belanda di Hindia Timur. Batavia akhirnya jatuh ke tangan Inggris pada tanggal 8 Agustus 1811.
Gubernur Jenderal Jawa, Jan Willem Janssens, yang merupakan pimpinan tertinggi benteng Cornelis, menolak untuk menyerahkan diri. Tentara Inggris terus menggempur. Serangan yang bertubi-tubi memaksa Janssens bersama sejumlah pasukannya melarikan diri ke Buitenzorg. Dari Buitenzorg, ia kemudian melarikan diri kembali menuju Semarang. Akhirnya Janssens menyerah dan Jawa berikut wilayah-wilayah yang menjadi bagiannya secara resmi dikuasai oleh Inggris.
Langkah berikutnya yang diambil oleh Inggris adalah penaklukan terhadap Kraton Yogyakarta. Pada bulan Juni 1812 Inggris menumbangkan kekuasaan Sultan Yogyakarta pada waktu itu. Peristiwa tersebut terjadi pada saat koloni Inggris di Jawa dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles.
Pemerintahan Inggris atas Jawa, khususnya Jawa Tengah, bukannya tanpa hambatan. Pada masa pemerintahan Raffles terjadi sebuah konspirasi yang dilakukan oleh sejumlah sepoy pada bulan Oktober 1815. Setahun kemudian masa jabatan Raffles berakhir. Pada tanggal 25 Maret 1816 ia mengadakan serah terima pemerintahan koloni dan kedudukannya sebagai Letnan-Gubernur Jawa digantikan oleh John Fendall.
Referensi:
Wolter J.A. (1999). The Napoleonic War in the Dutch East Indies: An essay and cartobibliography of the Minto Collection. Washington, D.C., United States: Library of Congress. pp. 7-8.