Faktor-faktor penyebab Revolusi Rusia 1917

Tahun 2017 merupakan peringatan seabad Revolusi Rusia. Perubahan besar kehidupan berpolitik negara tersebut secara garis besar terbagi menjadi dua momentum, yakni pada awal tahun (Revolusi Februari) dan akhir tahun (Revolusi Oktober). Revolusi Rusia menjadi awal keruntuhan Kekaisaran Rusia dan terbentuknya Uni Soviet (yang secara resmi ditetapkan pada tahun 1922).

Penyebab terjadinya revolusi adalah kesulitan ekonomi, sosial, dan politik akibat tekanan yang diberikan oleh rezim penguasa terhadap rakyat Rusia sejak akhir abad ke-19. Historylist menyebutkan 5 (lima) kejadian yang memicu terjadinya pergolakan yang akhirnya mencapai puncaknya pada tahun 1917, yakni: pembunuhan Tsar Aleksandr II oleh kelompok revolusioner Narodnaya Volya; pembentukan Partai Buruh Sosial Demokratik Rusia; kekalahan Rusia di dalam perang melawan Jepang; peristiwa pembantaian oleh pengawal kerajaan terhadap para buruh yang sedang mengadakan unjuk rasa di Winter Palace, St. Petersburg; dan Perang Besar (Great War), atau kemudian disebut pula sebagai Perang Dunia Pertama. 

Pembunuhan Tsar Aleksandr II 

Tsar Aleksandr II (Nikolayevich) disebut sebagai pemimpin Rusia yang paling reformis semenjak Peter the Great. Tsar Aleksander II melakukan reformasi besar-besaran sejak tahun 1861 terhadap Rusia guna modernisasi. Ia juga menyetujui reformasi konstitusi yang oleh sebagian besar ahli diyakini sebagai cikal bakal Duma. Hanya satu hari setelah ia memberikan persetujuan atas reformasi konstitusi tersebut terjadilah penyerangan terhadap Aleksander II. Pada tanggal 13 Maret 1881 ia terbunuh oleh kelompok revolusioner Narodnaya Volya (Kehendak Rakyat). 

Pembentukan Partai Buruh Sosial Demokratik Rusia (RSDRP)

Di dalam bahasa Rusia partai ini bernama Rosiskaya sotsial-demokraticheskaya rabochaya partiya (RSDRP). RSDRP dibentuk di Minsk, ibukota Belarus, pada tahun 1898. Pada Kongres Kedua yang, anehnya, berlangsung di luar negeri, yakni di kota Brussels, Belgia, pada tahun 1903, RSDRP terpecah menjadi dua faksi, yakni faksi minoritas Mensheviks yang dipimpin oleh Julius Martov dan faksi mayoritas Bolsheviks yang dipimpin oleh Vladimir Lenin. Faksi Bolsheviks inilah yang kemudian mengambilalih Pemerintahan Sementara pada saat terjadi Revolusi Oktober 1917. Setelah berhasil merebut kekuasaan Bolsheviks melakukan tekanan terhadap para pesaing politik dan mengganti namanya menjadi Partai Komunis Rusia.

Kekalahan Rusia di dalam perang melawan Jepang

Perang Rusia-Jepang terjadi akibat sengketa atas wilayah Manchuria dan Korea pada tahun 1904. Di dalam peperangan antara kedua negara monarki tersebut Jepang keluar sebagai pemenang, namun Tsar Nikolai II (Aleksandrovich) tidak bersedia menerima kekalahan. Puncak kekalahan Rusia terjadi pada bulan Mei 1905 ketika Armada Baltik tidak mampu menahan gempuran Armada Kerajaan Jepang pada Pertempuran Tsuhima. Peperangan melawan Jepang menyebabkan popularitas Nikolai II menjadi berkurang. Kekalahan Rusia juga menyebabkan serangkaian ketegangan sosial dan politik di dalam negeri. Pada awal tahun 1905 keadaan semakin tidak terkendali sehingga terjadilah Revolusi 1905. 

Minggu Berdarah 

Minggu Berdarah (Krovavoye voskresenye) merupakan sebuah peristiwa sadis di dalam sejarah negara Rusia yang terjadi pada hari Minggu tanggal 22 Januari 1905. Tentara pengawal kerajaan menembaki sekumpulan buruh yang sedang melakukan unjuk rasa damai di Winter Palace, St. Petersburg. Peristiwa tersebut memakan korban 100 orang pada pihak pengunjuk rasa. Penembakan tersebut menyebabkan gelombang aksi mogok buruh, pemberontakan kelompok buruh tani, kerusuhan pelajar, pemberontakan militer dan pembunuhan politik yang tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyebar berbagai wilayah Kerajaan Rusia. Para sejarawan menganggap peristiwa Minggu Berdarah sebagai titik awal Revolusi 1905. Momentum terebut juga mengawali radikalisasi buruh dan buruh tani yang sebelumnya menganggap tsar sebagai 'bapak' dan pelindung mereka. Tiba-tiba, tsar menjadi otokrat yang kejam dan beringas. Pembunuhan di St. Peterseburg tersebut merupakan tonggak awal terjadinya Revolusi 1917.

Perang Besar 

Perang Besar (Great War), atau kemudian disebut pula sebagai Perang Dunia Pertama, terjadi antara tahun 1914 dan 1918. Tsar memutuskan untuk ikut berperang dengan dukungan kuat dari pemuka masyarakat maupun pemimpin politik. Terdapat satu kelompok yang tidak bersedia jika Rusia ikut berperang, yakni Bolsheviks yang dipimpin oleh Vladimir Lenin. Di dalam prakteknya, Rusia mengalami banyak kerugian selama berperang, dari krisis ekonomi, kelangkaan pangan, hingga penderitaan rakyat. Memasuki akhir tahun 1916 semakin banyak pihak yang lelah untuk berperang dan bosan terhadap rezim tsar. Pada bulan Maret (atau Februari di dalam Kalender Julian, sehingga disebut sebagai Revolusi Februari) terjadilah aksi mogok disusul oleh kerusuhan di St.Petersburg. Kekacauan tersebut menjadi awal keruntuhan Monarki Rusia dan Dinasti Romanov yang telah berkuasa selama lebih dari tiga abad (sejak tahun 1613). Secara resmi, berakhirnya kekuasaan monarki tersebut ditandai dengan pengunduran diri Tsar Nikolai II pada tanggal 15 Maret 1917.

Referensi:
5 Events that Led to the Russian Revolution of 1917 - History Lists. (2017). Historylists.org. Retrieved 12 December 2017, from http://historylists.org/events/5-events-that-led-to-the-russian-revolution-of-1917.html.

Popular posts from this blog

Bagaimana masyarakat Indonesia mengenal sepeda motor

Olimpiade yang dibatalkan

Pergerakan teknokrasi dalam arena politik Jepang