Istana-istana Kerajaan Abomey

Istana-istana Abomey, yang terletak di negara Benin, merupakan bukti kejayaan sebuah kerajaan yang saat ini telah hilang. Dari tahun 1625 sampai dengan 1900 Kerajaan Abomey dipimpin secara bergantian oleh 12 raja. Sebelas di antaranya membangun sebuah istana megah berdinding silinder kayu dengan atap tinggi pada area seluas 44 hektar, dikelilingi oleh dinding setinggi 6 meter, dijaga secara ketat sehingga sulit untuk ditembus. Selama kerajaan tersebut berdiri, terdapat 14 istana. Selama ratusan tahun kompleks tersebut bagaikan "kota di dalam kota". Di sekeliling istana dibangun rumah-rumah satu atap yang semuanya terbuat dari tanah dan dihias dengan relief, mural, dan pahatan yang warna-warni. Arsitektur ini menjadi keunikan sendiri di tengah masyarakat yang pada saat itu masih buta huruf. 

Istana pertama dibangun atas perintah Raja Dakodonou pada tahun 1645. Istana ini kemudian melahirkan tradisi, di mana para raja penggantinya juga membangun istana dengan bahan dan desain yang tidak jauh berbeda -- di dalam istilah arsitektur, masing-masing istana bersifat kontekstual. Raja Agadja menjadi raja pertama yang memperkenalkan panel-panel bas-relief berukuran luas 1 meter persegi dengan warna cerah. Panel ini dilestarikan oleh penerusnya, misalnya Raja Glele, yang memiliki 66 panel serupa. Adapun tujuan dari panel-panel tersebut bukanlah untuk kesenangan semata, melainkan untuk propaganda. Catatan dari masyarakat Fon menyebutkan bahwa kemegahan istana dijadikan sebagai simbol supremasi kerajaan dan warisan, adat-istiadat, mitologi, dan liturgi budaya Fon. 

Kerajaan Abomey diserbu oleh tentara Prancis pada tahun 1892. Raja Behanzin yang berkuasa pada saat itu memerintahkan agar istana-istana tersebut dibakar daripada dikuasai oleh Prancis. Namun, setelah tahta berpindah ke tangan Raja Agoli-Agbo I, istana-istana tersebut dibangun kembali. Istana Raja Klele (terkenal dengan sebutan Hall of the Jewels) merupakan salah satu istana yang masih bertahan. Meskipun masih diragukan kapan bas-relief yang terdapat pada istana tersebut dibuat, namun ada kemungkinan bahwa istana tersebut masih aseli dan merupakan karya tertua arsitektur Kerajaan Abomey yang masih tersisa. Pada tahun 1911 Prancis mengadakan restorasi istana dengan menggunakan semua informasi yang ada, khususnya pada Istana Guezo dan Istana Glele. Disayangkan bahwa bas-relief yang terbuat dari tanah tidak dilindungi sehingga mengalami kerusakan. 

Terjadinya hujan deras pada tahun 1977, yang mengancam kelestarian bangunan istana, membuat pemerintah Benin meminta masukan dari UNESCO untuk bagaimana caranya agar istana-istana bersejarah tersebut dapat dipertahankan keberadaannya. UNESCO menanggapinya dengan mencantumkan istana-istana Kerajaan Abomey ke dalam World Heritage List pada tahun 1984 dan selanjutnya dalam List of the World Heritage in Danger setelah istana-istana tersebut terkena angin tornado. 

Terlepas dari segala usaha untuk melestarikan keberadaannya, sebagian besar dari istana-istana peninggalan Abomey terseut telah hilang. Kini tinggal tersisa bagian Istana Guezo dan Glele. Ukurannya menggambarkan masa lalu yang gemilang: jika digabungkan menjadi satu, kedua istana tersebut memiliki luas 4 hektar dan 18 bangunan gedung. Kedua istana tersebut beralih fungsi menjadi museum sejak tahun 1944.

Referensi:

  • Ben-Amos, Pauline G. 1999. Art, Innovation, and Politics in Eighteenth Century Benin. Indiana University Press. 
  • Langmead, Donald; Garnaut, Christine. 2001. Encyclopedia of Architectural and Engineering Feats. ABC-Clio. p. 2.
  • Pique, Francesca; Rainer, Leslie H. 1999. Palace Sculptures of Abomey: History Told on Walls. Getty Conservation Institute and the J. Paul Getty Museum. 

Popular posts from this blog

Bagaimana masyarakat Indonesia mengenal sepeda motor

Olimpiade yang dibatalkan

Pergerakan teknokrasi dalam arena politik Jepang