Karl der Grosse, inspirasi kepemimpinan bangsa Eropa
Charles the Great (Karl der Grosse; Charlemagne) adalah Raja Frank sejak tahun 768, Raja Lombardi sejak tahun 774, dan Kaisar Romawi sejak tahun 800 (Becher, 2005: 96). Menurut Becher (1992: 37-60) ia lahir pada tanggal 2 April tahun 742. Charles, demikian namanya, merupakan anak dari Pepin the Short dan Bertrada of Laon (Barbero, 2004: 12).
Karl der Grosse dapat dikatakan sebagai orang pertama yang menjadi Kaisar Jerman. Bergelar Charles I (Karls I), ia bertahta pada Abad Pertengahan dan mengawali unifikasi Jerman yang kemudian diteladani oleh Otto von Bismarck (Beyens, 1916: 192). Oxford Dictionary menyebutkan Charlemagne sebagai "pelopor kerajaan di Eropa Barat. Ia mulai bertakhta pada tahun 800 atas Romawi didukung oleh kepausan abad pertengahan sebagai salah satu usaha mendirikan sebuah kerajaan Kristen di bawah kekuasaan tunggal." (Macdonald, 2015: 9). Lebih lanjut, Macdonald (2015: 58) mengutip pernyataan Otto von Habsburg mengenai pengaruh dan warisan dari Karl der Grosse bagi Kekaisaran Romawi Suci, sebagai berikut:
"We do possess a European symbol which belongs to all nations equally. This is the crown of the Holy Roman Empire, which embodies the tradition of Charlemagne."
Para pendiri Uni Eropa (EU) dan banyak pemimpin Eropa pada era kekinian juga menakui bahwa tujuan puncak dari Uni Eropa ialah hidup "dengan warisan Kekaisaran Romawi Suci". Para politisi Eropa berulang kali menyerukan pujian mereka bagi Karl der Grosse dan secara terang-terangan mengakui bahwa mereka tengah berusaha untuk menciptakan sebuah Eropa bersatu yang "melekat pada tradisi Charlemagne." (Macdonald, 2015: 9).
Karl der Grosse menduduki tahta kerajaan Frank dan membawanya ke puncak kejayaan. Sebelum era Charlemagne, peta politik di benua Eropa terpecah-pecah. Jerman sendiri terbagi oleh banyak suku yang berlainan. Karl der Grosse yang memiliki hubungan dekat dengan kepausan melakukan perubahan besar dengan melakukan ekspansi dengan tujuan menyatukan bagian-bagian tersebut. Usahanya tentu saja diwarnai dengan pertumpahan darah. Karl der Grosse berkeyakinan bahwa ekspansi yang dilakukannya ialah untuk membela gereja. Pada tahun 774, atas permintaan dari Paus Leo III, ia bergerak ke bagian utara Italia untuk penaklukan kerajaan Lombard, kemudian membuat sejarah dengan menyatukan Italia untuk pertama kalinya di dalam beberapa abad. Pada tahun 799, sekali lagi Charlemagne mendapatkan dukunga dari paus, yang sebelumnya menjadi korban tindak kekerasan dan dimasukkan ke dalam penjara oleh konspirasi sejumlah orang. Charlemagne akhirnya mendapatkan balasan setimpal dari paus. Bertempat di Gereja St. Peters, Charlemagne dilantik oleh paus sebagai "Kaisar ke-73 Kekaisaran Dunia Keempat" (Flurry et al., 2013).
Di dalam artikel "Wars of Charlemagne" (Wars and Warfare, 12 November 2017) disebutkan bahwa pada masa kekuasaanya (768-814) Charlemagne menjalani 54 aksi militer. Usaha ekspansi dilakukan hingga mencapai kerajaan Frank. Pencapaian militer dan politik yang diraih oleh Charlemagne dinilai sebagai kunci baginya untuk mendapatkan gelar "raja Romawi Suci (emperor of the Holy Romans)" dari kepausan. Pemberian gelar tersebut dilakukan pada Hari Natal tahun 800.
Komposisi dan peralatan/persenjataan yang dimiliki oleh tentara milik Karl der Grosse mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Pada awalnya, Tentara Carolingian didominasi oleh pasikan infanteri. Mendekati masa peperangan, di mana tentara harus semakin menjauh dari markas besarnya di Austrasia, Karl der Grosse menambah kekuatan dengan membentuk pasikan kavaleri. Periode 792-793 ditandai dengan ditetapkannya regulasi yang mewajibkan vassal-vassal untuk memiliki kuda, perisai (tameng), tombak, pedang, pisau/belati, busur panah, quiver, dan anak panah.
Meskipun ekspansi dilakukan ke berbagai penjuru di wilayah Eropa, Karl der Grosse lebih berhasil melancarkan serangan ke Timur (arah Jerman). Pada tahun 787 ia menduduki Bavaria. Pendudukan atas Jerman berlanjut hingga ke wilayah Frisia dan Saxon di bagian Utara antara Sungai Rhine dan Sungai Elbe. Berkenaan dengan Saxon, daerah ini menjadi lawan yang paling sulit bagi Charlemagne. Ia memerlukan waktu 30 tahun untuk menaklukannya. Total, Charlemagne menjalani 18 kali pertempuran menghadapi Saxon.
Kunci keberhasilan militer Karl der Grosse yang dapat dijadikan inspirasi bagi militer-militer lain setelah era itu adalah penekanannya pada satuan kavaleri sebagai instrumen bagi mobilitas strategis. Kavaleri pada waktu itu, meskipun didukung oleh pasukan tombak yang jumlahnya terbatas, Karl der Grosse bersikap konsisten dengan strateginya dan taktiknya pada saat menjalani pertempuran dengan tidak melakukan perubahan berarti.
Karl der Grosse memberikan inspirasi yang kuat bagi sejumlah pemimpin besar di Eropa pada era setelahnya. Bahkan setelah ratusan tahun ia meninggal, kehidupan dan kinerja yang dijalani oleh Karl der Grosse tetap bertahan sebagai tolok ukur. Mahkota Kekaisaran Romawi Suci, yang diprakarsai oleh Otto the Great pada akhir abad ke-10, dinamakan sebagai Mahkota Charlemagne (Crown of Charlemagne). Napoleon dianggap sebagai "kelahiran kembali Charlemagne". Adolf Hitler juga sangat terpengaruh oleh visi Eropa yang dimiliki oleh Karl der Grosse. Third Reich bahkan membangun sebuah gedung yang ia namakan sebagai Kehlsteinhaus (Sarang Elang) di puncak Kehlstein, yang menurut cerita legenda menjadi tempat persemayaman sementara bagi Karl der Grosse (Macdonald, 2015: 58-59), untuk kemudian bangkit kembali pada suatu masa.
Referensi:
Barbero A. (2004). Charlemagne: Father of a Continent. California, United States: University of California Press.
Becher M. (1992). Neue Ueberlegungen zum Geburstdatum Karls des Grossen. In: Francia 19/1, 1992, pp. 37-60.
Becher, M. (2005). Charlemagne. Connecticut, United States: Yale University Press.
Beyens B. (1916). Germany Before the War. London, Great Britain: Thomas Nelson and Sons, Ltd.
Flurry G., Flurry S., Thompson J. (2013). Germany: and the Holy Roman Empire. Philadelphia, United States: Philadelphia Church of God.
Macdonald B. (2015). The Holy Roman Empire in Prophecy. Philadelphia, United States: Philadelphia Church of God.
Wars of Charlemagne. Weapons and Warfare, 12 November 2017. Diakses pada tanggal 13 November 2017 dari https://weaponsandwarfare.com/2017/11/12/wars-of-charlemagne/?wref=tp