Perkembangan metode ilmiah masa Arab hingga abad XX
Perkembangan metode ilmiah masa Arab hingga abad XX
Akan tetapi, awal yang menjanjikan ini tidak berlanjut. Perkembangan di dalam dunia Islam selanjutnya menghambat ruang gerak para ilmuwan Arab. Mempertanyakan dunia dianggap sebagai tindakan yang menentang cara-cara Tuhan dan sebagai usaha-usaha untuk melanggar misteri-misteri sakral. Estafet usaha ilmiah yang dijauhkan dari filsuf-filsuf alam Islam kemudian beralih menuju para ilmuwan abad pertengahan dari kelompok Kristen Eropa.
Referensi:
Berakhirnya era Hellenistic (puncak dari peradaban Yunani Klasik) menghambat perkembangan metode ilmiah (scientific method) sebagai sarana untuk memahami dunia sekitar (natural world). Hingga pada akhirnya minat dalam bidang ini muncul kembali pada saat sains bangsa Arab berkembang pada abad ke-7 Masehi. Ilmuwan brilian Arab bernama Ibn al-Hassan Ibn al-Haytham, yang hidup antara tahun 965 dan 1039, memperkenalkan prosedur yang menyerupai metode eksperimen modern. Ia memulainya dengan sebuah pernyataan masalah, kemudian menguji hipotesis dengan eksperimen, pertanyaan, dan akhirnya menuju pada simpulan. Ibn al-Hassan menerapkan sikap keragu-raguan dan bertanya-tanya, dan mengakui perlunya sistem pengukuran dan penyelidikan yang sangat terkendali. Ilmuwan lain, Abu Rahyan al-Biruni (973-1048) menambahkan, bahwa kesalahan dan bias dapat terjadi karena instrumen yang salah atau pengamatan yang keliru. Ia menyarankan agar eksperimen harus dilakukan secara berulang dan hasilnya digabungkan untuk memberikan hasil yang dapat dipercaya. Al-Rahwi (851-934) memperkenalkan konsep 'peer review', dengan menyatakan bahwa orang-orang yang bekerja atau berprofesi dalam bidang kesehatan sebaiknya mendokumentasikan prosedur-prosedur mereka dan menjaganya agar dapat dijadikan referensi bagi ahli-ahli fisika, meskipun motivasi utama dari pendapat tersebut adalah untuk menghindari hukuman karena malpraktek. Geber, atau Abu Jabir (721-815) menjadi orang pertama yang memperkenalkan eksperimen terkendali (controlled experiment) di dalam bidang kimia, dan Avicenna, atau Ibn Sina (980-1037) menyatakan bahwa induksi dan eksperimentasi harus membentuk landasan bagi deduksi.
Akan tetapi, awal yang menjanjikan ini tidak berlanjut. Perkembangan di dalam dunia Islam selanjutnya menghambat ruang gerak para ilmuwan Arab. Mempertanyakan dunia dianggap sebagai tindakan yang menentang cara-cara Tuhan dan sebagai usaha-usaha untuk melanggar misteri-misteri sakral. Estafet usaha ilmiah yang dijauhkan dari filsuf-filsuf alam Islam kemudian beralih menuju para ilmuwan abad pertengahan dari kelompok Kristen Eropa.
Sains Arab dan karya-karya Aristoteles berpindah ke Eropa dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Para penulis pada periode Renaissance (abad ke-12) mulai mengintegrasikan metode-metode ilmiah embrionik ke dalam studi-studi mereka sendiri dan membentuknya kembali, namun pertama-tama mereka tidak menentang otoritas klasik. Roger Bacon (1210-1292) merupakan salah satu orang pertama yang meragukan penerimaan tanpa syarat (unquestioning acceptance) terhadap tulisan-tulisan kuno, dan mengusulkan pengamatan lebih lanjut mengenai gagasan-gagasan yang mapan. Ia khususnya merujuk pada Aristoteles yang memiliki gagasan-gagasan yang diterima sebagai kebenaran gospel (gospel truth), dengan mengusulkan pengujian terhadap simpulan-simpulan yang telah dibuat oleh Aristoteles.
Di dalam sejumlah penyelidikan ilmiah yang ia lakukan sendiri, Bacon mengikuti sebuah pola penyusunan sebuah hipotesis berdasarkan pengamatan, kemudian melakukan sebuah eksperimen untuk menguji hipotesis tersebut. Ia mengulangi eksperimen untuk meyakinkan hasil, dan mendokumentasikan metode-metode tersebut sehingga dapat diperiksa lebih lanjut oleh ilmuwan-ilmuwan lain. Bacon menyebut eksperimennya sebagai "Vexation of Nature", yakni hubungan antara ilmuwan dan alam, di mana keduanya diujikan dan dimurnikan. Ia berpendapat, "Kita belajar lebih melalui vexation of Nature yang penuh seni dibandingkan melalui pengamatan yang sabar."
Selanjutnya, ilmuwan lain yang bernama belakang sama, Francis Bacon, yang hidup dari tahun 1561 hingga 1626, mengajukan sebuah pendekatan baru terhadap sains, yang ia terbitkan pada tahun 1621 dengan judul "Novum Organum Scientarum" (The New Organon of the Sciences). Ia berkeyakinan bahwa hasil dari eksperimen dapat membantu untuk menjembatani teori-teori yang saling bertentangan serta membantu umat manusia untuk mencari kebenaran. Ia memperkenalkan penalaran induktif (inductive reasoning) sebagai dasar bagi pemikiran ilmiah. Francis Bacon mengadakan proses pengamatan, eksperimentasi, analisis, dan penalaran induktif yang sering dianggap sebagai awal dari metode ilmiah baru. Metodenya dimulai dengan sebuah aspek negatif menuju ke sebuah aspek positif yang meliputi eksplorasi, eksperimentasi, dan induksi.
Minat terhadap pembahasan ilmiah berkembang pesat memasuki abad ke-17 dengan dibentuknya kelompok-kelompok kajian ilmiah. Salah satunya adalah Accademia dei Lincei yang digagas oleh Federico Cesi, seorang kaya dari Firenze, Italia, yang sangat antusias terhadap kegiatan ilmiah. Ia berpendapat bahwa ilmuwan harus mempelajari alam secara lebih langsung daripada sekedar bergantung pada filsafat Aristoteles. Maka dari itu, akademi yang ia bentuk tersebut kemudian membuat sebuah laboratorium. Para anggotanya antara lain ahli fisika Belanda Johannes Eck (1579-1630), ilmuwan Italia Giambattista della Porta (1535-1615), dan Galileo. Filosofi Accademia dei Lincei adalah "menampung pengetahuan tentang segala hal dan kebijaksanaan.... dan secara damai mempertunjukkannya kepada orang-orang.... tanpa disertai tindakan-tindakan yang membahayakan". Akademi ini bubar setelah Cesi meninggal.
Kegiatan ilmiah berikutnya dilakukan oleh dua orang murid Galileo, yakni Evangelista Torricelli (1608-1647) dan Vincenzo Viviani (1622-1703). Mereka berdua membentuk komunitas yang bernama Academy of Experiment, juga berlokasi di Firenze, Italia. Namun, umur kegiatannya tidak bertahan lama karena berangsur bubar pada tahun 1667. Semenjak itu, pusat perkembangan ilmiah berpindah dari Italia menuju Britania, Prancis, Jerman, Belgia, dan Belanda.
Pesatnya perkembangan masyarakat ilmiah di Britania ditandai dengan terbentuknya Royal Society of London. Pada awal terbentuknya, kelompok tersebut beranggotakan 12 orang, antara lain arsitek Inggris Christopher Wren (1632-1723) dan ahli kimia Irlandia Robert Boyle (1627-1691). Royal Society of London menyusun rencana berupa mengadakan pertemuan mingguan untuk menyaksikan eksperimen dan mengadakan diskusi masalah-masalah ilmiah. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai penerbit jurnal ilmiah tertua yang masih dipublikasikan hingga kini, yakni Philosophical Transactions.
Di Paris, Prancis, terbentuklah Academie des Sciences. Agak berbeda dari komunitas ilmiah lainnya, keanggotaannya tidak hanya dari kalangan ilmiah. Bahkan, akademi tersebut mengangkat Napoleon Bonaparte sebagai ketuanya. Di sana, kegiatan-kegiatan ilmiah dijadikan sebagai bentuk kebanggaan bangsa dan rivalitas internasional, khususnya bagi Republik Prancis dan Prancis era Napoleon.
Memasuki awal abad ke-20, Albert Einstein (1879-1955) melakukan perubahan besar dalam bidang fisika dan pandangan ilmiah tentang alam semesta. Sama halnya Aristoteles, ia bekerja dari pengamatan terhadap alam semesta untuk mengembangkan teori-teori, bersinggungan dengan fenomena-fenomena yang pada saat itu tidak dapat diselidiki sepenuhnya melalui eksperimentasi maupun pengukuran. Akan tetapi, ia juga mengikuti pemikiran Isaac Newton dengan menggunakan ilmu matematika untuk mendukung argumen-argumennya dan menunjukkan bahwa sistem yang diperkenalkannya bekerja dengan apa yang telah diketahui. Ia membuat prediksi-prediksi dihasilkan dari pengamatan dan observasi.
Referensi:
- Pesic, Peter. 1999. Wrestling with Proteus: Francis Bacon and the "torture" of nature. Isis, Vol.90, No. 1: 81-94.
- Rooney, Anne. 2011. The Story of Physics. London, United Kingdom: Arcturus Publishing Limited.