Pertempuran Cannae

Pertempuran Cannae (Battle of Cannae) merupakan sebuah peristiwa bentrok bersenjata antara Bizantium dan Longobardi yang terjadi pada tahun 1018. Di dalam pertempuran tersebut Byzantium dipimpin oleh Basil Boioannes, sedangkan Longobardi dipimpin oleh Melo di Bari (Beeler, 1971: 65-66). Battle of Cannae diwarnai oleh keterlibatan pasukan kavaleri dari Normandia yang dipimpin oleh Gilbert Bautere, pada pihak Longobardi (Theotokis, 2014: 3). 

Perlu diketahui bahwa Pertempuran di Cannae ini merupakan yang kedua di dalam sejarah wilayah itu. Jauh sebelumnya Cannae pernah menjadi lokasi pertempuran besar pada masa Perang Punic Kedua pada tahun 216 Sebelum Masehi sebagai rangkaian peperangan antara tentara Carthagia dan tentara Republik Romawi. 

Keterlibatan Normandia ialah dalam rangka untuk menaklukkan wilayah Italia bagian Selatan. Puncak pertempuran terjadi pada bulan Oktober 1018. 

Latar belakang pertempuran ini ialah keputusan Raja Normandia, Richard I, yang mengusir dan mengasingkan seorang bangsawan Normandia bernama Osmond Drengot karena melakukan pembunuhan terhadap salah satu saudaranya, Osmond. Richard I juga mengusir Gilbert Buatere dan Rainulf Drengot, yang akhirnya terpaksa hidup mengembara. Mereka kemudian menuju ke tempat persembahan Saint Michael yang berada di Monte Sant'Angelo sul Gargado, di wilayah Byzantium yang berada di Italia. 

Pada tahun 1016 kelompok pengembara Normandia tersebut direkrut oleh Melo di Bari untuk mendukung kekuatan Longobardi. Melo di Bari adalah seorang pemberontak Byzantum. Usaha perlawan terhadap Byzantium dimulai pada tahun 1017; Melo menjamin bahwa strategi mereka akan berhasil membuat kejutan untuk pihak Byzantium. Pasukan gabungan Longobardi/Normandia bergerak menuju ke Selatan ke arah Capua dan kemudian dilanjutkan ke Apulia. 

Pada pihak lawan Basil Boiannes menghimpun kekuatan besar yang didukun goleh Varangian Guard yang dikirimkan oleh Raja Basil II. Kedua pihak yang bersengketa bertemu di Sungai Ofanto, tempat di mana pasukan Romawi ditaklukkan oleh pasukan Carthagia pada tahun 216 SM.

Perkiraan Melo di Bari ternyata meleset. Pasukan mereka kalang kabut oleh serangan Byzantium. Melo di Bari melarikan diri menuju Negara Kepausan dan kemudian menuju ke Raja Romawi Suci, Henry II. Sementara itu, Gilbert Buatere terbunuh di tengah pertempuran. Pada akhir pertempuran tersebut hanya terdapat 10 orang kesatria Normandia yang selamat, termasuk Rainulf (byzantium.xronikon.com, 15 Mei 2018).


Referensi:
Beeler J. 1971. Warfare in Feudal Europe, 730-1200. New York, Amerika Serikat: Cornell University Press.
Byzantine Battles. Diakses dari https://www.byzantium.xronikon.com/battle.php?byzbat=c11_03, pada tanggal 15 Mei 2018.
Theotokis G. 2014. The Norman Campaigns in the Balkans, 1081-1108. Cambridge, Britania Raya: Boydell & Brewer.

Popular posts from this blog

Bagaimana masyarakat Indonesia mengenal sepeda motor

Olimpiade yang dibatalkan

Pergerakan teknokrasi dalam arena politik Jepang