Pertempuran Italia-Yunani 1938-1941

Invasi Italia terhadap wilayah Yunani pada akhir tahun 1939 merupakan salah satu rangkaian usaha Axis Power untuk memperluas pengaruhnya di benua Eropa. Pada saat perang terjadi pada bulan September 1939, Yunani, di bawah pimpinan Jenderal Ioannis Metaxas, mengambil posisi netral. Pada dini hari tanggal 28 Oktober 1939, melalui duta besarnya yang berkedudukan di Athina, Mussolini memberikan ultimatum kepada Yunani. Metaxas menolak ultimatum tersebut. Pada jam 5:30 dua kesatuan Italia, yakni 11th Army dan 9th Army di bawah komando Jenderal Visconti-Prasca, bergerak meninggalkan pos di Albania menuju Yunani dengan mengambil rute pegunungan. Diikuti oleh tentara Albania dan relawan mereka menjalankan misi "pembebasan" orang Albania yang berada di Yunani.

Tentara tersebut menghadapi empat divisi tentara Yunani dari 1st Army. Meskipun di atas kertas pihak Yunani kalah dalam jumlah tentara (18.500 melawan 12.000-14.000), namun divisi mereka lebih banyak. Tentara Yunani memiliki artileri ringan dan sedang yang lebih efisien dan senapan api yang lebih banyak. Mereka berhasil menghambat serangan Italia dan kemudian pada tanggal 4 November 1939, 2nd Corps di bawah pimpinan Kolonel Papadopoulos melakukan serangan balasan terhadap 11th Army Italia yang dipimpin oleh Jenderal Gelsos. Tentara Yunani dari kelompok Macedonia ikut ambil bagian di dalam mengalahkan tentara elite Italia dari Divisi Pegunungan, yakni Iulia. 

Tentara Yunani berhasil merebut kembali wilayah-wilayah perbatasan dan mengusir Italia keluar dari negara tersebut dan melintasi tapal batas kembali ke Albania. Hingga pertentangan November Yunani telah memberangkatkan 11 divisi infanteri, dua brigade infanteri dan satu divisi kavaleri untuk menghadapi 15 divisi infanteri dan satu divisi tank Italia.

Para jenderal Mussolini telah memperingatkan Il Duce pada saat merencanakan serangan ke Yunani. Chief of Staff Marshal Pietro Badoglio meletakkan jabatan sebagai bentuk protes atas keputusan Mussolini untuk menyerang Yunani. Pada tanggal 4 Desember 1939, melalui Menteri Urusan Perang, Jenderal Ubaldo Soddu, Mussolini mengusulkan gencatan senjata dengan Yunani. 

Pada tanggal 23 Februari 1941 pemerintah Yunani di bawah pimpinan Alexandros Korizis menerima tawaran bantuan militer dari Inggris. Pihak Inggris mengirimkan kesatuan yang bernama "W Force" (di bawah komando Letnan Jenderal Maitland Wilson) yang berkekuatan 50.672 tentara dari Divisi Selandia Baru, dan 6th Division dan 7th Division dari Australia di bawah komando Letnan Jenderal Blamey. Selain itu, Yunani juga mendapatkan bantuan persenjatan dan artileri dari Komando Timur Tengah Jenderal Wavell yang berada di Mesir. Kesatuan Wavell tersebut merupakan bagian dari tentara yang bertempur melawan Italia di Afrika Utara. Di dalam Operation Lustre W Force menuju ke Yunani melalui jalur laut. Pada tanggal 4 Maret 1941 mereka mendarat di Piraeus. 

Sebelum bantuan dari sekutu Inggris-Australia-Selandia Baru tiba, Yunani telah menguasai pesisir pantai Porto Edda dan tiga kota, yakni Klisura, Koritsa, dan Posgradee. Mereka beranjak mencapai ibukota Albania, Tirana. Kapal-kapal selam dari Angkatan Laut Yunani bersiaga di perairan Adriatik dan menenggelamkan 18 kapal pengangkut Italia yang membawa perbekalan perang dari Albania.

Referensi:
Fowler W. (2003). The Balkans and North Africa 1941-1942. Blitzkrieg. Vol. 4. Surrey, Great Britain: Ian Allan Publishing.

Popular posts from this blog

Bagaimana masyarakat Indonesia mengenal sepeda motor

Olimpiade yang dibatalkan

Pergerakan teknokrasi dalam arena politik Jepang