Sejumlah pandangan mengenai Winston Churchill

Pada tahun 2015 Britania Raya memperingati 50 tahun kematian Winston Churchill, Perdana Menteri pada masa Perang Dunia Kedua. Banyak yang menganggapnya sebagai orang besar, terhebat sepanjang masa bangsa Briton, namun tak sedikit pula yang menganggapnya sebagai seorang figur yang kontroversial. Pada saat Britania berada pada masa paling gelap (darkest hours) akibat Perang Dunia Kedua, kepemimpinan Churchill sangatlah penting di dalam menjaga morale dan memimpin negara tersebut menuju kemenangan atas Jerman. Pada tahun 2002, Winston Churchill melampaui reputasi tokoh-tokoh kenamaan seperti Shakespeare, Darwin, dan Brunel, sebagai "the greatest ever Briton". Namun, di dalam karirnya selama kurang-lebih 70 tahun, ia memiliki masa-masa yang kontroversial. Allen Packwood, direktur Churchil Archive Centre, berpendapat, "Ada bahayanya bilamana Churchill memperoleh status sebagai ikon murni karena kedudukan tersebut akan melepaskannya dari unsur kemanusiaan. Ia adalah seseorang yang sangat kompleks, kontradiktif dan manusia luar biasa dan ia senantiasa bergelut dengan kontradiksi-kontradiksi di sepanjang hayatnya." 

Sejumlah pihak berpendapat bahwa sekurang-kurangnya Winston Churchill mewariskan berbagai perdebatan pada masa kekinian, sejumlah diantaranya akan disajikan secara singkat pada paragraf-paragraf berikut ini. 

1) Pandangan tentang ras

Pada bulan April 2014, kandidat Partai Buruh Benjamin Whittingham menulis di dalam akun Twitter bahwa Churchill adalah "seorang rasis dan pendukung supremasi kulit putih". Pernyataan ini membuat marah cucu Churchill, Nicholas Soames. Lawan politik Whittingham dari Partai Konservatif, Ben Wallace, menganggap cuitan tersebut sebagai orang yang bersikap "tidak terpelajar" dan "sangat menghina". Menyusul komentar-komentar pedas ini Whittingham menghapus tulisan dari akun Twitter-nya dan pihak Partai Buruh mengeluarkan pernyataan bahwa apa yang dikatakan oleh politisinya tersebut "tidak mewakili pandangan Partai Buruh. Whittingham meminta maaf jika telah menyinggung pihak lain."

Akan tetapi, sebelum cuitan Whittingham tersebut, telah ada tanda-tanda mengenai sikap rasis Churchill. Pada tahun 1937 ia memberitahukan kepada Palestina Royal Commission: "Saya tidak mengakui misalnya, bahwa kesalahan besar telah dilakukan oleh Red Indians (penduduk aseli) di Amerika atau orang kulit hitam di Australia. Saya tidak mengakui bahwa sebuah kesalahan telah dilakukan pada orang-orang itu atas dasar fakta bahwa sebuah ras yang lebih kuat, lebih tinggi statusnya, dan yang lebih mendunia [telah] menaklukkan mereka, dan mengambilalih kedudukan mereka."

Menurut John Chamley, penulis buku "Churchill: The End of Glory", berpendapat bahwa Churchill juga percaya pada hirarki dan eugenics ras. Dalam pandangan Churchill, orang Kristen kulit putih berada di puncak hirarki, di atas orang Katolik kulit putih, sedangkan orang Indian lebih tinggi derajatnya daripada orang Afrika. Chamley lantas menambahkan, "Churchill memandang dirinya dan Britania sebagai pemenang dari hirarki sosial aliran Darwin." 

2) Gas beracun

Churchill mendapat kecaman karena menyarankan penggunaan senjata kimia, terutama terhadap bangsa Kurdi dan Afghan. Di dalam memo yang ia tulis pada tahun 1919 (saat menjabat sebagai Menteri Urusan Perang) ia menyatakan, "Saya tidak dapat memahami kecemasan tentang penggunaan gas. Saya sangat mendukung penggunaan gas beracun untuk menghadapi suku-suku yang tidak beradab." Pendapat ini telah digunakan oleh sejumlah kritik terkemuka, seperti Noam Chomsky, untuk menyerang Churchill. 

3) Tragedi kelaparan di Bengal

Pada tahun 1943, India yang masih menjadi bagian dari Inggris, mengalami bencana kelaparan yang hebat di wilayah timur laut negara tersebut, yakni Bengal. Kelaparan ini juga disebabkan oleh pendudukan Jepang atas Burma pada tahun 1942. Sekurang-kurangnya tiga juta orang tewas, dan tindakan yang diambil oleh Churchill mendapatkan kritisi dari berbagai pihak. 

Madhusree Mukerjee, penulis "Churchill's Secret War", menyatakan bahwa pada satu pihak menolak memenuhi permintaan India untuk memberikan bantuan gandum, pada pihak lain Churchill terus bersikeras untuk memasok beras guna mendukung perang. "[Kabinet Urusan Perang] memerintahkan untuk membangun sebuah lumbung gandum guna persediaan makan warga sipil Eropa setelah mereka dibebaskan. Sebanyak 170.000 ton gandum Australia melalui India," demikian tulis Mukerjee di dalam bukunya tersebut.

Lebih lanjut, Churchill justeru menyalahkan orang India atas tragedi kelaparan tersebut. Ia berkata, "orang India berkembang biak seperti kelinci." Richard Toye, penulis buku "Churchill's Empire", menganggap pernyataan Churchill tersebut sebagai "salah satu aib terburuk di dalam catatan hidupnya karena menggiring orang untuk menilai bahwa Churchill tidak bersungguh-sungguh memperhatikan bencana kelaparan." Toye melanjutkan bahwa Churchill menganggap kelaparan tersebut sebagai pengalihan isu yang dapat mengganggu usahanya untuk bertempur melawan Jerman. Meskipun Arthur Herman, penulis "Gandhi & Churchill" berpendapat bahwa kelaparan akan semakin memburuk jika tidak ada Churchil, Toye berpendapat bahwa dalam kasus ini yang dipermasalahkan adalah prioritas. Memang benar bahwa Inggris benar-benar kesulitan untuk mengerahkan sumber daya pada waktu itu, namun hal tersebut bukanlah alasan untuk tidak ikut membantu menanggulangi kelaparan. 

4) Pernyataan mengenai Gandhi

Churchill memiliki pandangan yang kuat mengenai orang yang saat ini dikenal sebagai figur yang memperjuangkan kemandirian bangsa India.  "Adalah hal yang mengejutkan jika melihat Tuan Gandhi, seorang pengacara terpandang yang menentang pihak pemerintah, berperilaku layaknya seorang fakir... berpakaian seadanya (setengah telanjang) berjalan menuju istana kerjaan," demikian ungkap Churchill terhadap lawan politiknya yang anti-kolonialisme tersebut pada tahun 1931. Pada saat berpidato di hadapan kabinetnya dalam kesempatan yang lain, Churchill mengatakan, "Gandhi semestinya tidak dilepaskan hanya karena ia sedang menjalani puasa. Kita sebaiknya membuang seseorang yang tidak mau diatur dan bersikap memusuhi Kerajaan [Inggris] tersebut pada saat ia mati." 

Boris Johnson, salah seorang penulis biografi mengenai Churchill menyatakan, "Churchill menempatkan dirinya di depan suatu pergerakan romantika-romantika imperialis yang anti rekonsiliasi." Chamley menambahkan bahwa Churchill menganut faham politik sangat kanan (far right) terhadap India; bahkan di antara sebagian besar kelompok Konservatif, tanpa menyinggung Liberal dan Buruh, pandangan Churchill terhadap India antara tahun 1929 dan 1939 cukup menyinggung perasaan. Toye berpendapat bahwa Churchill berulangkali menunjukkan oposisinya terhadap Gandhi dan tidak menginginkan India untuk membuat gerakan-gerakan menuju pemerintahan sendiri. 

5) Sikap terhadap orang Yahudi

Pada tahun 2012 muncul pernyataan keberatan terhadap usulan pendirian Churchill Centre di Jerusalem karena ia "bukanlah orang asing bagi anti-Semitisme laten di dalam generasi dan kelasnya". Martin Gilbert, penulis biografi resmi Churchill, mengatakan, "Ia dekat dengan idealisme Zionist dan mendukung gagasan negara Yahudi." Akan tetapi, Chamley menyanggah bahwa menjadi anti-Semitis berarti dengan sendirinya menjadi seorang Zionist. "Churchill tak diragukan lagi adalah seorang Zionist yang antusias, sangat percaya bahwa orang Yahudi harus memiliki negara sendiri dan negara tersebut harus berada di wilayah yang kini kita sebut Palestina," ungkap Chamley. 

Referensi:


  • Dikutip dari artikel berjudul "The 10 greatest controversies of Winston Churchill's career" yang ditulis oleh Tom Heyden pada BBC News Magazine pada tanggal 26 Januari 2015. Diakses dari [http://www.bbc.com/news/magazine-29701767] pada tanggal 5 Februari 2018. *Artikel ini menampilkan, di antaranya, foto patung Winston Churchill yang terkena aksi vandalisme berupa coretan cat berwarna merah. 


Bacaan pendukung:


  • Chamley J. 1993. Churchill: The End of Glory. Hodder and Stroughton.
  • Herman A. L. 2008. Gandhi and Churchill: The Epic Rivalry that Destroyed an Empire and Forged Our Age. Bantam.
  • Johnson B. 2014. The Churchill Factor: How One Man Made History. Riverhead Books.
  • Mukerjee M. 2010. Churchill's Secret War. Traquebar Press.
  • Toye R. 2010. Churchill's Empire: The World that Made Him and the World He Made. Henry Holt and Co.
  • "War Crimes and Imperial Fantasies: Noam Chomsky interviewed by David Barsamian". International Socialist Review, Issue 37, Sep-Oct, 2004. Diakses dari [https://chomsky.info/200408_/] pada tanggal 23 September 2018.



Popular posts from this blog

Bagaimana masyarakat Indonesia mengenal sepeda motor

Olimpiade yang dibatalkan

Pergerakan teknokrasi dalam arena politik Jepang