Toleransi antaretnis di Sikkim
Sikkim, sebuah wilayah yang barangkali kurang dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Di dalam kegiatan global apapun, nama Sikkim sepertinya tidak terdengar dan tidak memiliki peran yang signifikan. Akan tetapi, Sikkim adalah sebuah kenyataan. Daerah ini merupakan bagian dari peradaban manusia hingga era kekinian.
Sikkim saat ini merupakan sebuah negara yang bertetangga dengan Bhutan. Negara ini memiliki luas wilayah 22.000 mil persegi, berada di sebelah selatan pegunungan Himalaya. Baik Sikkim maupun Bhutan berada pada koordinat 20⁰30' - 28⁰30' Lintang Utara dan 88⁰0' - 29⁰15' Bujur Timur.
Sikkim adalah sebuah daerah yang dihuni oleh bangsa Lepcha. Mereka tidak menuliskan catatan-catatan sejarah, akan tetapi warisan budayanya yang kaya, berikut legenda dan mitos imajinatif yang dimilikinya, membantu para peneliti untuk mereka-ulang sejarah masa lalu daerah tersebut. Sebagian besar informasi mengenai Sikkim ditularkan secara lisan oleh para pemuka masyarakat Lepcha. Dari penuturan-penuturan tersebut sejarah Sikkim dapat ditelusuri hingga tahun 1400, yakni masa ketika daerah tersebut dipimpin oleh Tur-ve Pa-no.
Sikkim menjadi tempat tujuan orang-orang Kham Tibet pada abad ke-15, yakni ketika Sikkim dipimpin oleh seorang kepala suku Lepcha bernama Thekung Tek. Legenda menceritakan bahwa raja besar Kham, Kye Bhumsa, beserta isterinya, tidak memiliki keturunan selama bertahun-tahun. Mereka mendapatkan nasihat dari para lama untuk meminta petunjuk dari Thekung Tek, yang memiliki reputasi sebagai seorang peramal masa depan. Kye Bhumsa menuruti nasihat tersebut dan beranjak berangkat ke Sikkim dengan membawa sekelompok pengawal dan pengikut, melintasi pegunungan Yak-la dan Penlong, dan akhirnya tiba di Sat-la di dekat Rangpo. Rombongan tersebut membawakan banyak bingkisan kepada Thekung Tek.
Setelah bertemu dan berbincang, Thekung Tek mengatakan bahwa Kye Bhumsa dan isterinya akan memiliki tiga orang anak laki-laki. Ternyata, ramalan tersebut menjadi kenyataan. Dari kejadian itu maka Kye Bhumsa, isterinya, ketiga anaknya, dan Thekung Tek menyatakan sumpah untuk menjadi saudara. Dengan adanya ikatan ini, maka Sikkim menjadi terbuka bagi orang asing. Suku Lepcha mempersilakan suku Bhutia dari Tibet untuk menetap di Sikkim. Kedua kelompok masyarakat tersebut kemudian hidup bersaudara dan harmonis. Kepala suku Lepcha mendirikan sembilan batu yang menghadap Gunung Kangchendzonga di Kabi untuk menandakan perjanjian di hadapan semua dewa pelindung Sikkim. Kesembilan batu tersebut masih bertahan hingga kini di Kabi Longstok dan masyarakat Sikkim selalu mengadakan perayaan tahunan untuk memperingati perjanjian tersebut pada hari ke-15 bulan ke-9 kalender Tibet.
Anak laki-laki kedua Kye Bhumsa, yang bernama Mipon-Rab, menetap di Gangtok. Meskipun telah ada kesepakatan bahwa antara Lepcha dan Bhutia hidup bersama secara sendiri-sendiri, namun Mipon-Rab menikahi orang Lepcha sehingga terjadi perkawinan silang. Lambat laun, kelompok masyarakat yang berbaur ini mendominasi kehidupan masyarakat setempat. Agama yang mereka anut, Buddha, juga menjadi agama mayoritas. Konsolidasi kedudukan superior Bhutia di Sikkim terjadi dengan penobatan anak laki-laki Mipon-Rab, yakni Phuntsog Namgyal, sebagai Raja Sikkim pada tahun 1642. Menurut cerita rakyat Sikkim, tiga orang lama yang mengembara di berbagai jalur pegunungan berkumpul dan mengadakan pembicaraan di Yoksam, Sikkim Barat. Ketiganya memperdebatkan apakah Sikkim perlu memiliki ketua sementara dan pemuka agama yang akan secara aktif menyebarkan agama Buddha bagi masyarakat. Para utusan dikirim ke Gangtok untuk meminta Phuntsog Namgyal agar berkunjung ke Yoksam. Di Yoksam, Phuntsog Namgyal diangkat oleh pendeta-pendeta terpelajar sebagai Chogyal pertama Sikkim.
Memasuki akhir abad ke-18, keluarga (dinasti) Namgyal menjadi penguasa yang tidak tertandingi di Sikkim. Tidaklah mengejutkan bahwa aristokrasi di Sikkim sangat dipengaruhi oleh budaya pengadilan yang diterapkan di Tibet, dan sebagian besar Chogyal memilih isteri mereka dari Tibet. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang Lepcha yang menganut agama Buddha dan kedua kelompok masyarakat tersebut menjadi semakin terintegrasi. Tidak ada konflik ras antara mereka. Pada abad ke-18 dan ke-19, ketika orang Bhutan dan Nepal menyerbu Sikkim, orang Lepcha dan Bhutia bahu-membahu untuk mengusirnya. Ikatan kekerabatan antara Bhutia dan Lepcha seperti tak terpisahkan.
Referensi:
- Ray, Arundhati. 2005. Sikkim: A Traveller's Guide. New Delhi, India: Permanent Black. pp. 24-27.
- White, J. Claude. 2005. Sikhim and Bhutan. In: S. K. Sharma, Usha Sharma. Discovery of North-East India: Geograpy History Culture Religion Politics Sociology Science Education and Economy. Vol. 10. Sikkim. New Delhi, India: Mittal Publications. p. 1.