Trinidad, penghuni awal dan masa penjajahan Spanyol

Trinidad telah dihuni oleh manusia selama ribuan tahun sebelum Christopher Columbus mendarat di Karibia pada tahun 1492. Bahkan, boleh jadi Trinidad menjadi tempat pertama di kawasan Karibia yang dihuni oleh manusia. Mereka ditengarai berasal dari Asia yang melakukan perjalanan melintasi Selat Bering dan kemudian beranjak menyebar ke arah Selatan. Cara mereka makan untuk bertahan hidup adalah dengan berburu hewan dan mengkonsumsi tanaman dan rumput liar. 

Hunian manusia di Trinidad dapat ditelusuri dari peninggalan peradaban yang ditemukan di daerah yang terletak di wilayah barat daya, Banwari. Di sana ditemukan sebuah tengkorak yang diyakini sebagai bagian dari manusia awal yang menetap di Trinidad. Orang Banwari hidup dengan mencari ikan dan kerang, berburu hewan-hewan kecil, dan mengumpulkan buah-buahan, kacang-kacangan, dan sayuran. Mereka menggunakan alat bantu yang terbuat dari batu, dan tulang serta cangkang hewan. Kapal kayu, tombak untuk berburu ikan yang dipasangi tulang pada bagian ujungnya nampaknya menjadi alat yang dominan yang mereka buat dan pergunakan sehari-hari.

Antara 2.000 dan 2.5000 tahun yang lalu datanglah kelompok orang dari Venezuela membawa warna baru bagi Trinidad. Selain pandai berburu dan mencari ikan, mereka telah mengetahui cara bercocok tanam dengan menanam ketela pohon dan tanaman lain. Para pendatang dari Venezuela tersebut hidup menetap di dekat ladang yang mereka kelola. Kedatangan ini membuat kehidupan masyarakat di Trinidad semakin lengkap, antara lain dengan memperkenalkan tempat air dan makanan dari tanah lempung yang dihiasi lukisan, pakaian dari katun, dan kapal untuk mencari ikan. 

Kehidupan masyarakat Trinidad semakin berkembang dengan mengadakan kegiatan pertanian dan perdagangan. Mereka sering mengadakan perjalanan laut hingga pantai-pantai Venezuela dan Guyana. 

Kedatangan Christopher Columbus di Trinidad pada tahun 1498 menebarkan ancaman bagi penduduk setempat. Ia mengklaim bahwa Trinidad adalah koloni Kerajaan Spanyol, mengabaikan kenyataan bahwa di daerah itu telah ada penduduk yang telah hidup lintas generasi yang tentu saja lebih berhak atas daerah tersebut. 

Usaha untuk membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol berlangsung selama lebih kurang 100 tahun, sebelum akhirnya orang-orang Spanyol berhasil membangun permukiman tetap di Trinidad. Pada tahun 1592, seorang tentara Spanyol bernama Antonio de Berrio mendirikan sebuah kota yang ia beri nama San Jose de Oruna (St Joseph) dan menjadikannya sebagai ibukota Trinidad. Meskipun kota tersebut sempat direbut oleh Inggris melalui Walter Raleigh pada tahun 1595, namun kedudukannya sebagai ibukota tetap bertahan hingga tahun 1784. Semenjak itu Trinidad resmi menjadi jajahan Spanyol.

Pada waktu menjajah Trinidad, Spanyol sedang mengalami kesulitan ekonomi karena harus mengurusi banyak wilayah jajahan. Trinidad sekedar merupakan bagian yang kecil dan miskin bagi kerajaan, seperti halnya koloni-koloni lainnya di Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Karibia. Sehingga Spanyol tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka tidak dapat mengirim banyak kapal, barang atau uang untuk membuat Trinidad menjadi kaya. Selain itu, Spanyol lebih tertarik berburu emas dan perak, dua komoditi yang tidak dapat ditemukan di Trinidad. Dengan kata lain, dalam waktu yang lama Trinidad tidak memiliki perkebunan yang cukup untuk menanam komoditi seperti gula dan tanaman pangan lainnya untuk dijual ke Eropa. 

Pada masa penjajahan Spanyol, gubernur utusan dari Spanyol beserta para pejabat lain berada pada strata sosial yang tertinggi. Mereka menetap dan berkembang biak dari generasi ke generasi, menurunkan sejumlah klan keluarga hingga kini, misalnya klan Farfan. Sebagian besar orang asal Spanyol tersebut tinggal di St Joseph, hidup bertani dengan menanam tembakau, kakau, dan tanaman pangan. Pada masa itu Spanyol juga membawa pengaruh bahasa dan agama (Katolik Roma) bagi Trinidad. 

Sementara itu, orang Trinidad sendiri, meskipun tidak dijadikan sebagai budak, namun mendapatkan perlakuan yang tidak selayaknya. Ribuan orang meninggal karena penyakit atau bekerja terlalu keras di perkebunan. Di antara mereka ada pula yang dijadikan buruh di koloni-koloni Spanyol lainnya, atau dipindahkan ke Venezuela. 

Referensi:
Brereton, Bridget. 1996. An Introduction to the History of Trinidad and Tobago. Oxford, United Kingdom: Heinemann. pp. 1-10.

Popular posts from this blog

Bagaimana masyarakat Indonesia mengenal sepeda motor

Olimpiade yang dibatalkan

Pergerakan teknokrasi dalam arena politik Jepang